Senin, 17 Desember 2012

Silahkan Tertawa


Kau selalu saja mengatakan hal yang tidak ingin ku dengar
Aku terlalu mengerti maksudmu, karena itulah aku tak ingin dengar,
Aku berpura-pura tidak tahu menahu, tapi kau semakin memojokkanku
Kemudian dengan sombongnya kau berkata, kata-kata yang menyakitkan itu

Kau selalu saja mengatakan hal yang ingin aku lupakan
Aku terlalu paham tentang pembicaraanmu, karena itulah aku tak ingin ingat
Aku berpura-pura telah melupakannya, tapi kau terus menyudutkanku
Kemudian dengan lembutnya kau berkata, kenangan yang menyebalkan itu

Jika kau tak suka aku
Maka katakan dan menjauhlah dariku
Jangan membunuhku perlahan dengan kata-katamu yang tajam
Kata-kata itu menusukku lebih tajam dari pisau
Tak terlihat dan lukanya takkan bisa hilang

Jika kau tak suka aku
Maka jangan hanya memojokkanku
Kau hanya bisa menyerangku dengan semua kelemahan dan kekuranganku
Kau membunuhku perlahan-lahan, membunuh kesabaranku
Aku ingin menutup mulutmu dan mengembalikan kata-katamu

Kau terkadang membicarakan hal-hal yang tak bisa kumengerti
Kau tak peduli aku mengerti atau tidak, yang penting kau bicara
Kau tak pernah mau mendengarkan kata-kataku
Kau merasa kata-katamulah yang benar dan takkan salah

Aku akan jujur
Aku tak suka padamu
Aku tidak gampang membenci seseorang
Tapi aku gampang menyembunyikan kebencianku
Aku masih bisa memperlihatkan senyum dan kebaikanku
Meskipun aku sangat membencimu
Walaupun aku harus berdusta, aku akan berpura-pura
“Aku tidak ada dendam padamu”

Aku tidak ingin dibenci, karena itu aku tidak mau membenci
Tapi terkadang kau bertindak diluar batas kemampuanku menerima
Aku bisa menerima semua cemoohanmu, caci makimu, emosimu
Dan semua hal negative untukku dengan lapang dada

Yeah…tapi jika aku sudah mengambil sikap DIAM
Itu artinya, aku sudah berada dititik puncak
Titik puncak emosiku

Terkadang, aku berfikir
Lebih baik diam, karena diam menyisakan berjuta misteri
Kau membencinya kan??

Kau boleh tetap melanjutkan ocehanmu yang tak penting itu
Aku hanya akan diam dan mendengarkan semuanya dengan sabar
Aku tak akan kabur dari siapapun yang ingin menjatuhkanku
Karena aku akan menabung kritikanmu untuk kesuksesanku

Kau boleh tetap melanjutkan tawamu yang tak bisa di rem
Aku, sesekali akan ikut tertawa agar aktingku sempurna
Aku berpura-pura menjadi orang yang bodoh didepanmu
Tak apa, asal aku bisa mentertawakan diriku sendiri

Lebih baik begitu, daripada aku terus mentertawakan orang lain….

Aku memang pantas untuk ditertawakan
Berbuatlah sesuka hatimu, dan aku akan berbuat sebaliknya
Aku memang bodoh, saking bodohnya
Aku selalu saja berhasil membuatmu tertawa dan menjatuhkanku
Tertawalah…dan aku akan tertawa juga
Kau mentertawakan kebodohanku
Dan aku mentertawakan diriku, “Aku memang sangat bodoh”

Kata-katamu masih menyayatku dengan kejinya
Lebih tajam dari benda apapun didunia
Aku akan bertahan dengan rasa sakit ini
“Karena suatu saat rasa sakit ini akan menjadi obat”
Kau pasti tertawa terbahak-bahak mendengarkan kata-kataku
Silahkan tertawa….tertawalah sampai puas
Sampai rahangmu mungkin tidak bisa ditutup kembali

Aku melukiskan semua kekesalanku pada kertas kosong
Berharap semua hanya akan berakhir dalam goresan tinta
Aku ingin kebencian ini terhapus dengan sendirinya
Aku ingin mengakhiri kata-kata negatifmu tentangku

Dengan caraku sendiri…

Minggu, 05 Februari 2012

komplikasi organisasi di kampus dan sekolah



Bagi kita yang pernah atau sering mengikuti kegiatan organisasi, pasti sering berhadapan dengan masalah. Entah itu masalah intrapersonal maupun interpersonal. Selalu dan pasti masalah akan timbul dalam interaksi antar manusia. Bagi yang menganggap masalah adalah pemicu keberhasilan, hal ini bukanlah masalah. Namun, untuk yang tidak mau berhadapan dengan masalah, akan terlibat dalam konflik kepentingan.


Dalam hampir setahun terakhir saya mengikuti sebuah organisasi kampus, banyak hal yang saya alami. Seperti sulitnya beradaptasi, kontra keinginan, miscommunication, dan juga ketidaksolidan antaranggota. Beberapa penyakit organisasi ini telah menggejala bukan hanya ditempat saya berorganisasi, tapi juga di komunitas organisasi lain.


Produktivitas organisasi menjadi terdekandensi oleh anggotanya itu sendiri. Tujuan yang semula terprogram dengan baik menjadi bocor dan cacat di sana-sini. Butuh perjuangan yang lebih keras lagi untuk mendobrak rintangan ditengah jalan. Dan jelas ini membutuhkan energi ekstra yang mengorbankan waktu dan tenaga.


Intensifikasi internal organisasi sangat diperlukan. Bagaimana sebuah organisasi berjalan dengan baik kalau anggotanya merasa gerah di dalamnya? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh penggelut dan aktivis organisasi. Jika lingkup dalam organisasi harmonis, maka visi-misi akan dapat tercapai dengan nyata.


Isu ketidakharmonisan organisasi berangkat dari masalah-masalah kecil. Contoh nyatanya adalah perbedaan pendapat. Bukankah ini masalah besar? Karena jika terus-menerus berbeda tentu tidak akan mencapai titik temu. Benar, tetapi justru dengan berbeda itulah kita semakin berwarna. Tidak sulit untuk menyatukan perbedaan. Tinggal ambil titik tengahnya. Toh, anggota juga akan merasa adil jika segala sesuatu diambil jalan tengahnya.


Ada banyak orang mengatakan, semakin sering bertemu, semakin terasa sayang. Begitu juga dengan organisasi kampus. Berpuluh-puluh anggotanya jika terus diketemukan, maka akan muncul riak-riak perasaan. Yup, benar. Perasaan itu berhubungan dengan hati, dan hati berhubungan dengan emosi. Beberapa tipe emosi: Marah, Benci, Cinta, dan lain sebagainya. Secara humanis, hal ini dipandang wajar selagi masih dalam batas kemanusiaan dan tidak berlebihan.


Saya selalu jengah dengan syndrome emotional. Emosi, menurut saya selalu menimbulkan masalah. Tapi kita tidak akan bisa mencegah emosi yang keluar dari diri orang lain. Yang kita bisa hanya meredam dan memberi saran dan kritik untuknya. Tapi di sisi lain saya menyukai emosi orang lain. Terasa lucu dan menggelitik batin. Ya, beginilah kita manusia, takkan mungkin berbuat sempurna.


Segala komplikasi yang terjadi pada sebuah perkumpulan manusia akan selalu menciptakan masalah yang positif dan negatif. Tinggal kitanya yang berpikir cerdik untuk mengatasi dan membatasi itu semua. Kita pasti mampu.